Bela Hak Pelaut, PPI akan Ajukan Eksekusi  Perusahaan Pelayaran di PN Tanjungpinang

Jakarta, PPI News – Berdasarkan Pasal 125 Herzien Indlandsch Reglement (HIR) (S.1941-44) hakim dapat menjatuhkan putusan verstek. Putusan verstek adalah putusan yang dijatuhkan apabila tergugat tidak hadir atau tidak juga mewakilkan kepada kuasanya untuk menghadap meskipun ia sudah dipanggil dengan patut. Apabila tergugat tidak mengajukan upaya hukum verzet (perlawanan) terhadap putusan verstek itu, maka putusan tersebut dianggap sebagai putusan yang berkekuatan hukum tetap.

Dewan Pimpinan Daerah Pergerakan Pelaut Indonesia Provinsi Kepulauan Riau (DPD PPI KEPRI) berencana melakukan Permohonan Eksekusi pasca Putusan No. 69/Pdt.Sus-PHI/2018/PN.Tpg, tanggal 13 Februari 2019 yang diputus oleh Majelis Hakim Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri Tanjungpinang, Kepulauan Riau.

“Permohonan Eksekusi akan kami lakukan pada hari Senin, (20/5/19) di PHI-PN Tanjungpinang. Hal itu dilakukan karena sejak putusan itu dibacakan oleh Majelis Hakim hingga detik ini Para Tergugat belum menunjukan itikad baiknya,” ujar Ketua Pembina DPD PPI KEPRI, Capt. Iskandar Zulkarnain, M.Mar.

Menurut Capt. Zul (sapaan akrabnya), perkara perselisihan hubungan industrial tersebut diregistrasi oleh kepaniteraan PHI-PN Tanjungpinang atas gugatan yang diajukan oleh PPI pada tanggal 25 September 2018.

“Sepanjang persidangan baik Tergugat I (Pemilik Kapal) maupun Tergugat II (Pencarter Kapal) tidak pernah hadir, maka sesuai aturan Majelis Hakim memutus perkara itu dengan Putusan Verstek. Dalam putusan itu, Para Tergugat divonis oleh Majelis Hakim untuk membayar hak-hak Penggugat dengan total sebesar Rp. 456.000.000,” ungkap Capt. Zul.

Masih kata Capt. Zul, isi putusan yang memerintahkan Para Tergugat untuk membayar hak-hak Penggugat adalah akumulasi dari hak gaji selama tiga bulan yang belum dibayar, hak asuransi sesuai PP No. 44 Tahun 2015, dan hak santunan kematian sesuai PP No. 7 Tahun 2000.

Terpisah, RS selaku prinsipal yang merupakan istri dari pelaut (almarhum MS) dengan jabatan Nakhoda yang meninggal sewaktu bekerja di atas kapal TB. Virgo 99, yang mengalami kecelakaan kapal “tenggelam” pada akhir Desember 2017 silam, meminta kepada Para Tergugat untuk patuh terhadap semua isi putusan yang telah diputus oleh pengadilan.

“Saya sudah kehilangan suami saya yang tenggelam bersama kapal TB. Virgo 99 dan yang paling membuat hati ini sedih hingga detik ini jenazah suami saya pun belum diketemukan. Sementara saya terus disakiti dengan tindakan tidak kooperatif perusahaan yang tidak mau memberikan apa yang menjadi hak-hak almarhum,” pungkas RS.

Admin PPI News