Pelaut Dilarang Baca Tulisan Ini

Jakarta, PPI News, #OpiniLaut – Kapan pelaut bisa melakukan aksi unjuk rasa minimal dua bulan sekali secara berkelanjutan hingga apa yang menjadi tuntutan dapat dipenuhi, meski dengan jumlah massa yang sedikit (karena sikon pekerjaan di atas kapal yang tidak memungkinkan untuk bisa aktif terlibat turun ke jalan setiap saat) ?

Pertanyaan tersebut seringkali terlintas dalam benak, bahwa serikat pelaut harus mulai mengubah pola pikir gerakan agar lebih diperhitungkan keberadaan, kekompakan, dan perjuangannya dimata pemerintah selaku regulator dan pengusaha di bidang pelayaran selaku pihak perusahaan, baik perusahaan pemilik kapal maupun perusahaan keagenan awak kapal.

Jumlah pelaut Indonesia yang saat ini berkisar lebih kurang satu juta orang memang tidak sebanyak dengan jumlah pekerja pada umumnya (di pabrik-pabrik) yang jumlahnya puluhan juta. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa pelaut merupakan profesi yang masih minoritas jumlahnya di Indonesia dibanding dengan pekerja-pekerja profesi lainnya.

Meski jumlahnya masih minoritas di Indonesia, dilansir dari Kontan, 22 Maret 2012, devisa dari pelaut Indonesia yang bekerja di luar negeri mencapai 16 Triliun pertahunnya, sehingga benar jika penerimaan devisa negara kedua terbesar setelah migas adalah dari devisa Pekerja Migran Indonesia, maka pelaut-pelaut Indonesia yang bekerja di luar negeri turut andil dalam hal itu.

Kembali ke soal aksi pelaut secara berkelanjutan, dengan jumlah pelaut yang masih dibilang minoritas jika dibandingkan dengan jumlah pekerja pada umumnya, bukan berarti pelaut harus terus-terusan berdiam diri meratapi dan pasrah terhadap praktik-praktik pelanggaran ketenagakerjaan yang dilakukan oleh para pengusaha di bidang pelayaran.

Pelaut harus bisa bersatu dalam bingkai pergerakan demi perbaikan kedepannya agar generasi penerus pelaut tidak terus-menerus menjadi sapi perah kaum kapitalis. Maka diperlukan kesadaran dini bagi para pelaut untuk mengenal, berbagung menjadi anggota, bahkan jika diperlukan aktif terlibat dalam gerak perjuangan serikat pelaut.

Bayangkan saja jika setiap pelaut memiliki kesadaran akan pentingnya berserikat sejak dini, bukan kenal dan gabung dengan serikat ketika terjerat masalah dan kemudian lupa setelah masalahnya dibantu dan diselesaiakan oleh serikat ibarat laksana toilet yang dicari ketika sedang ingin buang air, pastinya taring pelaut akan lebih diakui eksistensinya oleh para pemodal yang secara seenak ‘udelnya’ membuat kebijakan-kebijakan yang memberatkan pelaut.

Bergabung dengan serikat bukan untuk ajang gagah-gagahan. Tetapi bergabung dengan serikat diperlukan untuk membentuk sebuah kekuatan pelaut dalam perjuangan kolektif atas kondisi miris ketenagakerjaan pelaut yang selama ini terjadi, agar kedepannya dapat terwujud hubungan ketenagakerjaan pelaut yang harmonis, dinamis dan berkeadilan.

Perjuangan bisa dilakukan dengan berbagai upaya baik melalui upaya propaganda di sosial media terkait fakta-fakta miris ketenagakerjaan pelaut, audiensi, rekomendasi, aksi unjuk rasa, aksi pemogokan, hingga melalui jalur politik.

Jika mindset yang menyatakan pelaut tidak boleh vokal terhadap perusahaan maka pelaut tidak akan bisa mendapatkan pekerjaan, itu mindset yang tidak benar. Maka pertanyaannya adalah jika pelaut sadar berserikat dan menentukan sikap terhadap ketidakadilan ketenagakerjaan yang selama ini terjadi, apakah kapal-kapal para pengusaha bisa beroperasi dan bukankah kerugian mereka akan lebih besar dialami?

Dengan berserikat, pelaut dapat menentukan sikap, ide dan gagasan perjuangan untuk melawan kapitalisme, baik dengan cara membentuk koperasi pelaut ataupun dengan cara-cara sosial lainnya yang dapat menghasilkan penghasilan sementara agar dapur tetap ‘ngebul’ dan sikap mempertahankan harga skill pelaut ‘gaji’ dapat dipertahankan hingga pemodal akhirnya menyetujui tuntutan para pelaut.

Bersatu, Bergerak, Bermartabat dengan Berserikat !

Admin PPI News