Kadet Dipukul dan Diancam Dibunuh di Kapal, PPI Beri Bantuan Hukum

Jakarta, PPI News – Ketua Umum Pergerakan Pelaut Indonesia (PPI), Andri Yani Sanusi mengecam segala bentuk tindak kekerasan yang terjadi di atas kapal. Indonesia pada tanggal 6 Oktober 2016 melalui Undang Undang Nomor 15 Tahun 2016 telah meratifikasi Maritime Labour Convention, 2006 (Konvensi Ketenagakerjaan Maritim, 2006).


Secara Umum, kata Andri, terdapat 11 regulasi nasional yang sudah sesuai ‘comply’  dengan ketentuan MLC 2006, salah satunya adalah Undang Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.


“Setiap pekerja mempunyai hak untuk memperoleh perlindungan atas kesempatan dan kesehatan kerja, moral dan kesusilaan, dan perlakuan yang sesuai dengan harkat dan martabat manusia serta nilai-nilai agama sebagaimana Pasal 86 Ayat (1) UU Ketenagakerjaan,” tegas Andri.


Baru-baru ini, PPI kembali menerima pengaduan tentang adanya tindak kekerasan yang terjadi di tempat kerja ‘di kapal’, dimana ada seorang Peserta Didik yang melaksanakan praktek laut ‘Kadet‘ melaporkan bahwa dirinya mengaku telah dipukul dan diancam akan dibunuh oleh atasan kerjanya di atas kapal.


Masih kata Andri, Praktek Laut (On Board Trainning) adalah bagian dari kegiatan pembelajaran pada diklat kepelautan berupa praktek berlayar untuk peserta didik kepelautan pada kapal niaga dengan ukuran kapal, tenaga penggerak utama, dan daerah pelayaran yang ditetapkan sesuai dengan sertifikat yang akan diperolehnya. Hal itu sesuai dengan ketentuan Peraturan Direktur Jenderal Perhubungan Laut Nomor HK.103/I/7/DJPL-18 tentang Pedoman Pengesahan dan Pengujian Buku Catatan Pelatihan Kadet Di Atas Kapal (Training Record Book).


Andri menyebut, dirinya menerima informasi tentang laporan kekerasan di atas kapal itu dari Anggota Satuan Tugas ‘Satgas PPI‘, Muh. Rakhmat Shiyam yang menerima secara langsung pengaduan dari si Kadet di kantor DPP PPI pada tanggal 07 Juni 2019, malam. 


“Iya betul. Sdr. YAS (23) ‘Kadet’ (nama inisial) datang ke kantor PPI dan melaporkan bahwa dia dipukul dan diancam akan digorok lehernya oleh atasan kerja di kapal,” ungkap Rakhmat.
YAS, kata Rakhmat, mengaku telah dipukul dan ditendang oleh Sdr. A selaku C/O dan diancam akan digorok ‘dibunuh’ dengan pisau oleh Sdr. F selaku Juru Mudi di atas kapal MV. Sera** 5 milik PT. TF pada tanggal 04 Juni 2019.


Secara terpisah, YAS, dihubungi oleh Admin PPI News menyatakan bahwa apa yang ia alami adalah benar. 


“Saya enggak ada masalah apa-apa. Tapi alasannya, katanya saya enggak menyapa CO. Padahal saya menyapa. Soal ancaman dibunuh, itu dilakukan setelah kejadian pemukulan. Juru Mudi terus intimidasi saya dan mengambil pisau dapur dan mengacungkan di depan saya sambil berkata, awas ya, saya ‘Juru Mudi’ gorok leher kamu ‘YAS’,” terang YAS.


Akibat kejadian tersebut, Satgas PPI diwakili oleh Rakhmat telah mendampingi YAS mendatangi perusahaan dan meminta perusahaan dapat memanggil kedua terlapor ‘CO dan Juru Mudi’ ke kantor guna penyelesaian perkara tersebut.


“Pihak perusahaan melalui HRD merespon positif aduan dan siap memanggil kedua terlapor untuk dipertemukan dengan pelapor didampinggi PPI pada hari Rabu, (12/6/19),” kata Rakhmat.


Rakhmat juga meminta kepada perusahaan untuk melakukan tindakan tegas terhadap para terlapor atas kejadian itu sesuai ketentuan hukum yang berlaku dan peraturan perusahaan. Selain itu, setelah selesai perkaranya, dokumen dan barang-barang YAS yang saat ini masih di atas kapal, perusahaan dapat segera mengambilnya dan diberikan kepada YAS, karena dipastikan YAS tidak mungkin lagi dapat melanjutkan aktivitasnya sebagai Kadet di kapal tersebut karena sangat trauma.

Admin PPI News