Putus Verstek dan Ajukan Eksekusi, Pelaut Ini Taklukan Perusahaan Pelayaran di Tahap Aanmaning

Jakarta, PPI News“Usaha tidak akan menghianati hasil,” demikian ucapan pertama Muhammad Adnan Tianotak, seorang pelaut asal Maluku itu setelah permohonan eksekusi melalui kuasa hukumnya Pergerakan Pelaut Indonesia (PPI) di Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri Klas I A Khusus Banjarmasin berakhir dengan perdamaian yang dimuat dalam bingkai “BERITA ACARA EKSEKUSI” oleh Panitera Muda Khusus PHI, Fachriansyah Noor, SH, Rabu (15/5/19).

BAE (Berita Acara Eksekusi) tersebut dibuat atas dasar pelaksaan isi putusan yang sebelumnya diajukan oleh Adnan melalui PPI di PHI PN Banjarmasin dalam rangka menggugat PT. SPM atas perselisihan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang dinilai dilakukan oleh pihak perusahaan secara sepihak.

Gugatan PPI yang diregistrasi dengan nomor perkara 20/Pdt.Sus-PHI/2018/PN.Bjm akhirnya berakhir dengan muara Putusan Verstek (Putusan yang diputuskan oleh majelis hakim tanpa kehadiran Tergugat) pada tanggal 11 Desember 2018 lalu, yang isi putusannya mengabulkan gugatan Adnan untuk sebagian dan menolak untuk selain dan selebihnya.

“Pasca Putusan Verstek tersebut yang sejak diputus, tetapi tidak dilakukan upaya perlawanan (verzet) oleh pihak Tergugat yang kalah, maka Saya melalui PPI cabang Kalimantan Selatan kemudian mengambil tindakan untuk melakukan permohonan eksekusi, yang dimulai dengan proses Aanmaning,” ujar Adnan.

Melalui Relaas Aanmaning No. 4/PDT.SUS-PHI/EK/2019.PN.Bjm tertanggal 07 Mei 2019, Jurusita PHI PN Banjarmasin memanggil para pihak untuk hadir dalam proses mediasi di pengadilan pada tanggal 15 Mei 2019. Adnan hadir didampingi oleh Ketua DPD PPI Kalimantan Selatan, Sarpani Bajuri dan pihak perusahaan selaku Termohon Eksekusi hadir diwakili oleh Personel Admin dan Industrial, Head of Banjarmasin Branch, dan Administration Officer.

“Pihak perusahaan pada saat Mediasi sebelum dilaksanakan eksekusi menyampaikan bersedia dan menyanggupi pembayaran hak-hak saya sesuai isi putusan,” ungkap Adnan.

Lebih lanjut, Adnan mengungkapkan kegembiraan yang luar biasa, “Akhirnya terbayar tuntas perjuangan dan penantian saya selama ini, dan ini sebagai bentuk pembuktian kepada kawan-kawan pelaut agar tidak pasrah begitu saja disaat diberhentikan dari pekerjaannya secara semena-mena. Selain itu, ini juga sebagai bentuk perlawanan pelaut yang selama ini dianggap sebelah mata oleh pihak perusahan. Ini bukan masalah nominal, tetapi masalah harga diri sebagai seorang pelaut. Sudah saatnya pelaut melek regulasi dan sadar berserikat agar pelaut punya nilai tawar dimata perusahan.”

Sebelumnya, Adnan merupakan pelaut dengan jabatan Kepala Kamar Mesin (KKM) di kapal TB. Republik 024. Selama 9 bulan ia bekerja tiba-tiba di PHK secara sepihak oleh pihak perusahaan dengan alasan melanggar aturan perusahaan. Atas dasar pemecatan tersebutlah kemudian ia melalui PPI menggugat pihak perusahaan.

Adapun hak-hak yang berhasil Adnan dapatkan adalah uang pesangon (UP) tiga kali ketentuan dan uang penggantian hak (UPH) sesuai UU No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan serta kekurangan premi yang belum dibayarkan pada bulan Maret dan Agustus 2017 dengan total keseluruhan Rp. 29.465.500. Dengan diterimanya uang tersebut maka perselisihan antara pemohon dan termohon eksekusi dinyatakan telah selesai.

Kontributor: MAT

Editor: Admin PPI News